Bermula dari pengembangan kali berbasis masyarakat yang didukung dana BANK DUNIA, WASNADIPTA diminta untuk membuat DED (Detailed Engineering Design) dari rencana pengembangan kawasan Kali Buntung yang terletak di Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta.

TUGAS

Mengembangkan Kali Buntung menjadi suatu kawasan yang menjadi ruang kegiatan masyarakat yang memiliki MULTI-FUNGSI dan MULTI-MAKNA, bermanfaat bagi kehidupan sosial-budaya-ekonomi warga sekitarnya, dan menjadi sungai yang BERSIH-INDAH-LESTARI.

GAGASAN

Pembangunan keseluruhan maupun setiap tahapan, dikerangkai oleh nilai-nilai berikut ini, yaitu: (1) Ekologi, (2) Edukasi, (3) Ekonomi, (4) Teknologi, (4) Kebudayaan, (5) Konservasi, (6) Kesehatan, dan (7) Sosial-kemasyarakatan.

Nilai Ekologi terkait dengan upaya melestarikan lingkungan (DAS) Kali Buntung sebagai warisan alami yang perlu dicintai terus-menerus. Kelestarian ekologi Kali Buntung menjadi salah satu tolok ukur keunikan hubungan masyarakat dengan sungai, yaitu bagaimana hubungan batin masyarakat terhadap kali (alam) dan menjadi fondasi tercapainya kelestarian dan kualitas lingkungan.

Nilai Edukasi terkait dengan upaya memanfaatkan sungai sebagai sarana pendidikan lingkungan bagi anak-anak sejak usia dini. Nilai edukasi juga diarahkan kepada fungsi ruang Kali Buntung yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perolehan informasi-pengetahuan bagi warga yang memanfaatkannya. Kehadiran kegiatan belajar memahami lingkungan dan aktivitas bertukar informasi-pengetahuan di ruang Kali Buntung menjadi tolok ukur keberhasilannya.

Nilai Ekonomi terkait dengan usaha memanfaatkan ruang Kali Buntung menjadi ruang aktivitas yang mampu bermanfaat secara ekonomis bagi warga sekitarnya. Keragaman dan intensitas kegiatan ekonomi berbasis masyarakat yang tumbuh dan berkembang di ruang Kali Buntung menjadi tolok ukur tercapainya fungsi ruang sungai sebagai area pembangkit ekonomi rakyat.

Nilai Teknologi terkait dengan usaha memanfaatkan sungai dan ruang sungai sebagai tempat pembangkit atau penerapan teknologi ramah lingkungan. Tolok ukur keberhasilannya adalah munculnya pemanfaatan sungai dan ruang kali sebagai tempat ujicoba atau penerapan teknologi ramah lingkungan. Artinya, Kali Buntung dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan teknologi yang relevan dengan hakekatnya sebagai sungai multi-fungsi dan multi-makna.

Nilai Kebudayaan terkait dengan upaya membangun perilaku hidup bersama yang guyub-rukun dan bermartabat. Tolok ukur keberhasilannya adalah area penataan berkembang semakin menarik menjadi ruang publik yang aktif-dinamis bagi kegiatan-kegiatan interaksi antar warga maupun dengan warga luar kelurahan. Artinya, area penataan berkembang menjadi ruang aktivitas dan ruang interaksi, bahkan menjadi tempat rekreasi yang unik.

Konservasi berkaitan dengan usaha penyelamatan obyek-obyek langka melalui cara mengintegrasikan keberadaannya dengan hal-hal baru yang berkembang saat ini (kontemporer). Obyek langka sangat beragam, berupa kekayaan alam (tanaman-pohon langka), tempat unik, ritual atau permainan langka, dsb. Tolok ukur keberhasilannya adalah dilestarikannya obyek langka tersebut dalam jangka panjang. Filosofinya, kegiatan yang ditambahkan selalu harus menghasilkan efek yang mengarah kepada kelestariannya, bukan sebaliknya.

Kesehatan berkaitan dengan upaya memanfaatkan Kali Buntung menjadi ruang atau fasilitas masyarakat (publik) menjaga-meningkatkan kualitas kesehatan fisik. Tolok ukur keberhasilannya adalah berkembangnya secara berkesinambungan berbagai kegiatan pemanfatan ruang Kali Buntung sebagai fasilitas dan sarana-prasarana menjaga kesehatan fisik. Artinya, Kali Buntung menjadi fasilitas fitness bagi publik yang menarik dan berkualitas.

Sosial-kemasyarakatan berkaitan dengan usaha memanfaatkan ruang Kali Buntung menjadi tempat interaksi sosial antar warga maupun dengan warga yang lain. Tolok ukur keberhasilannya adalah terjadi keberagaman dan kelestarian kegiatan sosial-kemasyarakatan di Kali Buntung. Artinya, Kali Buntung mampu menjadi tempat untuk melakukan kegiatan interaksi sosial-kemasyarakatan karena memiliki keunikan serta memberikan rasa aman-nyaman-sehat bagi para pelakunya.

BATASAN PROYEK

Dalam proyek pengembangan kali ini ada enam segmen pembangunan. Wasnadipta terlibat dalam pembangunan daerah antara jembatan mesjid Al-hikmah sampai jembatan jalan gotong-royong (sepanjang +/- 120m).

DISAIN

 

Comments are closed.

highslide for wordpress